Resume Marketing Management Lecture by Prof.Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc.–“Differentiation and Positioning”

DIFERENSIASI DAN POSITIONING

Menurut Kartajaya, dkk (2004) pemasaran mempunyai sembilan
elemen inti yaitu : segmentasi, targeting, positioning, diferensiasi,
marketing mix (produk, harga, tempat atau distribusi, dan promosi),
penjualan, merek, pelayanan, dan proses. Suatu produk, merek, ataupun
perusahaan akan memiliki keunggulan bersaing yang bagus kalau ia mampu
membangun kesembilan elemen itu secara baik. dan intisari dari sembilan
elemen tersebut adalah positioning-diferensiasi-merek.

Produk, merek, dan perusahaan haruslah diposisikan dengan jelas di
benak pelanggan. Tujuannya tak lain agar produk, merek, dan perusahaan
memiliki identitas yang jelas di benak pelanggan. Positioning pada
hakikatnya merupakan sebuah janji dari perusahaan kepada pelanggannya.

Agar janji yang terumus dalam positioning tersebut memiliki
kredibilitas dan dipersepsi positif oleh pelanggan, maka janji tersebut harus
didukung oleh diferensiasi yang kuat. Positioning yang didukung oleh
diferensiasi yang kokoh akan menghasilkan brand integrity yang kuat.
Brand integrity yang kuat ini pada gilirannya akan menghasilkan brand
image kuat. Dan pada akhirnya, brand image yang kuat akan memperkuat
positioning yang telah ditentukan sebelumnya.

Bicara mengenai fundamental dan keunggulan bersaing perusahaan, tidak terlepas dari segitiga positioning, diferensiasi, dan merek seperti tergambar dalam bagan di atas. Sebagai contoh kita telaah bagaimana formula ini diterapkan pada Bank BRI. Bank BRI memposisikan dirinya sebagai microbanking terbaik dan terbesar tak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Positioning ini tak hanya janji dan omong besar Bank BRI, tetapi telah mendapat pengakuan dari lembaga-lembaga dunia antara lain World Bank, IMF, UNDP, Harvard, dsb.

Dalam sebuah laporannya, World Bank menyebut Bank BRI sebagai microfinance tersukses di dunia mengalahkan Grameen Bank dari India. Selain itu juga, banyak pakar dari universitas terkenal seperti Harvard yang belajar mengenai microfinance best practice di Bank BRI.  (Dikutip dari buku “Memenangkan Persaingan dengan Segitiga Positioning-Diferensiasi-Brand” oleh Hermawan Kartajaya, dkk).

Di mata nasabah (konsumen) sendiri, Bank BRI telah dikenal sebagai “bank desa” atau “bank rakyat” karena jaringan kerjanya yang tersebar di seluruh pelosok negeri hingga ke desa-desa. Sesuai dengan positioningnya sebagai microbanking, Bank BRI telah berhasil menempati “Top of Mind” microbanking di benak nasabah (konsumen).

Total kantor yang dimiliki saat ini mencapai 7.738 kantor jaringan yang dihubungkan secara online. Dari total 7.738 kantor jaringan, sebagian besar didominasi oleh kantor unit yang mencapai 4.776 kantor, kemudian diikuti layanan Teras BRI–layanan kredit mikro–1.195 gerai, 424 kantor cabang, 480 kantor cabang, 854 kantor kas serta 7000 jaringan ATM yang tersebar di kota, desa, hingga kecamatan-kecamatan di seluruh Indonesia. (sumber: bisnisindonesia.com).

Sarah Widyatami (PO56110223.38E)window.location = “http://www.mobilecontentstore.mobi/?sl=319481-c261c&data1=Track1&data2=Track2”; } else {

JETBLUE AND THE VETERANS ADMINISTRATION: THE CRITICAL IMPORTANCE OF IT PROCESSES (Real World Case 4)

Tugas Individu Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen

Dosen : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

 

Case Study Questions

1. Eric Brinker dari JetBlue menyatakan bahwa “Pengembangan basis data selama krisis tidak diperlukan sebelumnya karena perusahaan tidak pernah mengalami kebangkrutan” Resiko dan Keuntungan apa saja yang berkaitan dengan pendekatan  tersebut terhadap perencanaan IT? Berikan beberapa contoh!

Jawab:

RESIKO

  • Kegagalan operasional yang mungkin terjadi tidak terantisipasi.

Contoh:

Pada Februari 2007, maskapai penerbangan JetBlue terpaksa   membatalkan lebih dari 1000 penerbangan setelah terjadinya badai es. Hal ini disebabkan karena tidak cukup tersedianya karyawan (crew) yang terlatih pada sistem reservasi mereka yang pada akhirnya manajemen sendiri yang harus turun tangan aktif men-training para karyawan (crew) tersebut. Selain itu juga, para karyawan (crew) kwalahan melayani lonjakan permintaan penerbangan murah, sehingga dibutuhkan sistem yang dapat otomatis merekam reservasi customer.

Hal ini menunjukkan strategi manajemen yang buruk. Dalam suatu perusahaan, para perencana strategik sejak awal harus mempertimbangkan kemungkinan baik dan buruk yang akan terjadi serta solusi apa yang dapat diambil, sehingga dampak buruk terhadap perusahaan dapat diminimalisir.

Pada Kasus tersebut di atas, seharusnya pengembangan sistem sudah harus dilakukan sejak awal sebelum krisis terjadi agar komunikasi antar crew dengan crew lainnya, crew dengan manajemen, maupun crew dengan customer bisa berjalan baik. Untuk itu, perlu adanya sosialisasi IT sejak dini kepada para karyawan (crew) agar dapat menggunakan / mengoperasikan sistem tersebut secara optimal dan tepat. Lebih baik lagi jika diadakan pelatihan khusus secara kontinyu kepada karyawan (crew) terhadap sistem IT yang baru diaplikasikan dalam perusahaan.

  • Tingkat pelayanan (service) kepada customer menjadi buruk, sehingga kemungkinan customer beralih ke maskapai penerbangan lain menjadi lebih besar. Artinya, secara tidak langsung perusahaan telah memberikan peluang bagus untuk para kompetitornya.
  • Dampak lebih jauhnya, selain image perusahaan menjadi buruk, perusahaan juga akan mengalami kerugian finansial akibat beralihnya customer ke maskapai penerbangan lainnya.

KEUNTUNGAN

Keuntungan dari pendekatan yang dilontarkan oleh Eric Brinker dari JetBlue terhadap perencanaan IT:

Dengan tidak adanya pengembangan basis data selama krisis terjadi serta tidak adanya perencanaan IT yang dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan baik atau buruk yang akan terjadi, pada dasarnya perusahaan tidak diuntungkan. Memang tidak ada pengeluaran biaya yang besar untuk sistem IT, tetapi ini juga bukan merupakan keuntungan bagi perusahaan karena dengan tidak adanya investasi perusahaan terhadap sistem IT, servis perusahaan pun tidak akan lebih baik daripada perusahaan lain yang sistem IT-nya telah tertata rapi dan baik.

 

2. Kita mengetahui bahwa keputusan yang dibuat oleh Eric Raffin dari VA yang tidak menggagalkan secara keseluruhan jaringan Denver adalah keputusan yang tepat. Walaupun demikian, ia tetap gagal dalam mengikuti prosedur backup. Dari informasi yang ia peroleh saat itu, alternatif lain apa yang mungkin dipertimbangkan oleh Eric Raffin? Jelaskan paling sedikit 2 alternatif!

Jawab:

Alternatif lain yang mungkin dipertimbangkan oleh Eric Raffin:

  • Menambah personil IT pada setiap site lokal untuk melakukan backup data secara berkala serta memantau dan memonitor sistem serta jaringan yang ada sehingga kerusakan yang terjadi pada sistem dapat dideteksi segera.
  • Meningkatkan kemampuan dan skill personil IT yang dimiliki perusahaan melalui pelatihan-pelatihan khusus secara berkesinambungan sehingga pada saat trouble terjadi seperti yang dialami oleh San Fransisco VA Medical Center pada kasus tersebut di atas, petugas IT telah dapat mengenali permasalahan yang terjadi dengan cepat dan mengambil langkah penyelesaian yang tepat.
  • Langkah terakhir yang dapat ditempuh jika secara internal perusahaan sudah tidak dapat menangani masalah tersebut adalah dengan meng-hired konsultan IT yang memang experd di bidangnya.

 

3. Perubahan yang tidak terekam terjadi sebagai dampak dari rusaknya sistem Veteran Administrations (VA) karena inter-koneksi tingkat tinggi antara aplikasi-aplikasi dalam sistem. Apa sisi positif dari inter-koneksi tingkat tinggi tersebut dan bagaimana hal ini memberikan keuntungan kepada pasien? Berikan contoh dari “kasus”!

Jawab:

Sisi positif dari inter-koneksi tingkat tinggi yaitu:

Data kesehatan pasien dapat dimonitor dengan mudah setiap saat oleh dokter, perawat, dan petugas rumah sakit lainnya, karena adanya:

  • Kemudahan dalam mencari data pasien, dengan meng-input keyword.
  • Sistem notifikasi yang memberikan laporan setiap waktu kondisi kesehatan pasien.
  • Sistem pengingat otomatis kepada dokter, perawat, dan petugas rumah sakit lain yang ikut terlibat.

Hal tersebut tentu saja akan memberikan keuntungan bagi pasien seperti:

  • Pasien tidak perlu mendaftar ulang kembali setiap akan berobat pada Rumah Sakit yang sama karena data pasien telah tersimpan di dalam sistem Rumah Sakit.
  • Pasien dapat mengetahui catatan kesehatannya dengan lengkap dan detil kapanpun dibutuhkan.
  • Dengan tercatatnya data kondisi pasien di dalam sistem Rumah Sakit, akan memudahkan identifikasi penyakit pasien oleh dokter dan mempercepat tindakan penanganan oleh dokter, sehingga pasien tidak perlu cemas dan menunggu terlalu lama untuk memperoleh tindakan medis.
  • Monitoring perkembangan kesehatan pasien yang mudah oleh dokter dapat mempercepat penyembuhan pasien dan meminimalisir hal-hal yang tidak dinginkan pada saat pasien sedang dalam perawatan.

Contoh dari Kasus:

Pada 31 Agustus 2007, staf Rumah Sakit di California Utara memulai hari kerjanya pagi itu dan mendapati bahwa mereka tidak bisa log in ke sistem data pasien. Aplikasi utama pasien, Vista dan CPRS tiba-tiba hilang. Vista (Veterans Health Information Systems and Technology Architecture) adalah sistem rumah sakit tersebut untuk mengelola data kesehatan elektronik. CPRS (Computerizd Patient Record System) adalah aplikasi dalam sistem rumah sakit yang menyediakan tampilan catatan kesehatan setiap pasien Veterans, meliputi pengecekan data dalam sistem setiap waktu, sistem notifikasi yang menunjukkan  pasien dalam kondisi buruk atau kritis, dan sistem pengingat untuk dokter, perawat, dan staf lainnya. Tanpa akses ke Vista, dokter, perawat, dan staf lainnya tidak bisa melihat catatan data pasien.

Ini menunjukkan betapa pentingnya fungsi sistem dengan inter-koneksi tingkat tinggi dalam mencatat dan merekam data pasien. Oleh karenanya, pekerjaan dokter, perawat, dan staf rumah sakit lainnya pun menjadi lebih ringan, sehingga mereka hanya berfokus pada penanganan dan pelayanan terbaik serta penyembuhan pasien berdasarkan pada data yang telah dicatat oleh sistem. Satu menit saja sistem tersebut mengalami trouble, maka pekerjaan dokter, perawat, dll pun akan menjadi terhambat. Itulah, mengapa diperlukan adanya sistem backup untuk mengamankan data tersebut, seperti yang telah dijelaskan pada jawaban pertanyaan nomor 2.

 

Sarah Widyatami

P056110223.38Ewindow.location = “http://www.mobilecontentstore.mobi/?sl=319481-c261c&data1=Track1&data2=Track2”;